Thursday, 8 December 2016

Review Film Headshot - Iko Uwais dan Chelsea Islan

Review Film Headshot – Iko Uwais dan Chelsea Islan. Kamis, 8 November 2016 kemarin merupakan penayangan perdana film “Headshot” yang dibintangi oleh aktor laga Iko Uwais, dan dilengkapi pula oleh aktris muda berbakat Chelsea Islan. Penulis berkesempatan  menonton langsung ke bioskop  dengan rasa penasaran ingin menikmati film asli Indonesia yang sangat dinanti – nanti akhir tahun 2016 ini. Berikut adalah ulasan review film “Headshot” setelah menonton secara langsung.


      - Gender Film
Sama halnya dengan film - film action yang dibintangi oleh Iko Uwais sebelumnya, film “Headshot” juga sarat akan adegan saling tembak – tembakan serta aksi perkelahian secara langsung menggunakan tangan kosong. Bedanya, film “Headshot” tidak hanya ber-gendre full action fight saja, namun juga gendre drama romantis. Hal ini dibuktikan pula dengan tampilnya aktris cantik Chelsea Islan sebagai lawan pendamping Iko Uwais dalam beradegan romantis. Namun, adegan drama romantis yang disajikan masih terkesan terpisah atau kurang sesuai jika dipadukan dengan gendre asli film tersebut yakni full action fight. Adegan drama romantis yang ada, sangat terkesan seperti film full drama romantis yang sebenarnya sehingga terasa kaku, berlebihan, tidak alami, dan kurang menyentuh hati para penontonya. Apalagi peralihan antara scene romantis dengan scene fight, terlihat kurang menyambung bahkan terputus karena terjadi kekakuan saat scene romantis lalu perlahan muncul scene fight.
Kalaupun ingin ditambahkan  adegan drama romantis, seharusnya tidak perlu berlebihan sehingga tidak terlihat kaku, cukup dengan beberapa adegan romantis yang sederhana seperti melalui kalimat ataupun tindakan – tindakan ringan akan tetapi dapat berkesan dan menyentuh langsung hati para penonton ditengah – tengah tayangnya film perkelahian yang  sangat mendebarkan.

-      - Alur Cerita
Secara umum, film “Headshot” memiliki alur cerita yang cukup seru dan membuat penasaran saat menontonya. Film ini mengisahkan pemberontakan / pembelotan seorang anak  hasil didikan dengan cara yang tidak manusiawi bersama anak – anak lainya untuk dijadikan seorang pembunuh yang buas. Iko Uwasi sebagai salah satu dari anak tersebut membelot karena sadar akan  kekeliruan didikan dan semua tindakan yang pernah dilakukan.
                Alur cerita yang ada dapat dinikmati dengan jelas dan tidak membingunkan, baik itu alur berjalan maju, maupun alur yang menceritakan kejadian yang telah terjadi.

-      - Kalimat, Pengucapan, dan Penjiwaan
Semua kalimat adegan yang ada diucapkan secara jelas oleh masing – masing aktor, mesipun sekali lagi pada adegan drama romantis, kalimat yang ada membuat adegan semakin terasa kaku.
Secara umum, penjiwaan karakter telah melekat pada masing – masing aktor, kecuali saat drama romantis. Khusus untuk antagonis utama, penjiwaan karakter yang dibawakan perlu diapresiasi karena dinilai sempurna dalam setiap adegannya sehingga membuat penonton merinding.

-       - Aktor yang Terlibat
              Banyak sekali aktor – aktor fight yang beradegan langsung dengan Iko Uwais pada film ini, menjadikan banyaknya scene fight yang ada sehingga penoton dapat menikmati berbagai adegan perkelahian dengan lawan yang berbeda namun sangat alot dan berdurasi cukup panjang.
              Selain aktor fight, aktris drama Chelsea Islan menjadikan film ini memiliki beberapa macam rasa. Chelsea Islan pun tidak hanya beradegan drama romantis, tetapi juga beradegan perkelahian yang dirasa cukup sempurna dan tidak terkesan kaku.
-       
        - Efek Adegan
              Efek berdarah – darah saat adegan tembak – tembakan maupun perkelahian membuat film ini terlihat nyata. Namun, beberapa adegan yang dirasa kurang relevan seperti adegan tembak – tembakan yang beruntun tetapi yang tertembak masih dapat menembak beruntun pula, meskipun pada akhirnya semuanya mati. Selain itu, adegan Iko Uwais yang terlalu banyak “keberuntungan” untuk tidak tertembak padahal dengan jarak dan penembak yang baik seharusnya dapat dikurangi sehingga tidak terlihat seperti dibuat – buat.
                Efek slowmotion beberapa kali hadir pada film “Headshot” untuk memperjelas adegan tertentu sehingga penonton dapat lebih menikmati adegan dengan jelas. Tetapi beberapa efek slowmotion yang berlebihan dan tidak perlu membuat adegan tidak nyata dan seperti dibuat – buat.

-       - Lawan Utama
Tokoh antagonis utama adalah sang pendidik Iko Uwais itu sendiri, tetapi adegan perkelahian yang disajikan melawan antagonis utama dirasa kurang memuaskan karena durasi adegan yang kurang runtun, serta terlalu banyaknya jeda yang tidak perlu saat adegan perkelahian. 

-       - Aliran Bela Diri 
              Pada film – film yang lalu, sangatlah jelas aliran bela diri yang digunakan Iko Uwais maupun lawan - lawannya  saat adegan perkelahian. Namun, pada film “Headshot” sangat terkesan seperti berkelahi tanda ilmu bela diri, semrawut, dan tidak terlihat keindahan seni bela diri, padahal salah satu yang ditonjolkan oleh film – film sebelumnya adalah keindahan ilmu bela diri tersebut.
            Meskipun saat melawan antagonis utama terdapat sedikit keindahan ilmu bela diri, serta  memperjelas aliran bela diri, namun tidak dapat dinikmati secara penuh oleh penonton.  Jika diperhatikan terdapat salah satu koreografi yang sama dengan film The Raid 2, tetapi pada film ini tidak semenarik seperti film sebelumnya  sehingga tidak menyebabkan rasa kagum penonton dengan bertepuk tangan puas. 
  
        - Judul Kurang Jelas
Seperti film Merantau dan The Raid, judul film mencerminkan cerita yang ada pada filmnya, tetapi judul pada film "Headshot" terkesan tidak sama sekali mencerminkan isi maupun alur cerita film, padahal yang diharapakan tentunya adalah arti dari kata 'headshot' itu sendiri.

-         - Adegan / Scene Lucu
             Adegan drama romantis seharusnya dapat meniru konsep dari adegan / scene lucu yang ada. Adegan lucu berjalan dengan sederhana, unik, alami dan tidak berlebihan namun dapat dinikmati langsung oleh penonton dan dibuktikan dengan respon penonton yang tertawa lepas ditengah – tengah film. Porsinya pun tidak berlebihan, tidak menutup gendre utama, dan tidak menimbulkan gendre komedi.  

-      - Karakter Potensial
Karakter yang dimainkan oleh Bimo seharusnya dapat berlanjut cukup panjang karena karakter yang dibawakan dapat dirasakan oleh penonton secara langsung, baik itu karakter dengan adegan lucu, bahkan adegan kasar / sadis. Jika karakternya dikembangkan mungkin saja penonton akan lebih tertarik.

-      Kesalahan Adegan / Scene
              Sampai pada artikel ini ditulis, kesalahan scene yang cukup terlihat ada pada awal – awal mulai jalannya cerita menuju adegan perkelahian, yakni saat Iko Uwais menyusul Bus yang tumpangi Chelsea Islan.


      Itulah beberapa ulasan review dari film “Headshot”. Beberapa detail tidak dapat dijelaskan secara rinci demi menjaga karya film “Headshot” itu sendiri, dan dapat lebih jelas ketika menonton secara langsung dan legal tentunya .

      Artikel ini tidak sedikitpun bermaksud untuk menjelek – jelekkan film “Headshot” melainkan hanya berupa ulasan pendapat subjektif dari penulis yang tidak bisa dibenarkan maupun disalahkan sepenuhnya namun tetap dapat dipertanggungjawabkan oleh penulis. Penulis sangat mengapresiasi film “Headshot” dengan cara menonton secara langsung dan memulis review ulasan pada arikel ini. Semoga perfilman Indonesia semakin lebih baik.  


Penulis & Editor : Mahrus Khomaini





Read more