Wednesday, 13 April 2016

Ketika Nilai Mengalahkan Kejujuran (Versi Asli Sebelum Editing Radar Malang)

Ketika Nilai Mengalahkan Kejujuran

Malang Post, Senin 4 Januari 2016
Nilai, atau dengan kata lain adalah skor untuk sebuah mata pelajaran merupakan salah satu hal mutlak penentu seorang pelajar lulus maupun tidaknya terhadap mata pelajaran tersebut. Para pelajar dituntut untuk mampu menguasai semua mata pelajaran sesuai dengan kurikulum yang belaku, sesuai dengan standar minimal kelulusan, sehingga para pelajar sangat berusaha untuk memenuhi tuntutan tersebut. Tetapi bagaimana jika cara yang digunakan pelajar adalah cara yang salah, cara yang tidak jujur, cara yang tidak seharusnya dilakukan oleh seorang pelajar untuk mendapatkan sebuah nilai mata pelajaran.
Penulis dapat mengatakan demikian karena baru saja menyelesaikan bagaimana  rasanya berkehidupan menjadi seorang pelajar mulai dari sekolah dasar hingga sekolah menengah atas. Seperti ketika SMA, saat ujian sebuah mata pelajaran banyak sekali cara – cara yang digunakan adalah sebuah kecurangan seperti mencontek, bertanya teman, menggunakan handphone dan lainnya yang digunakan bagaimana agar soal dapat terjawab dengan benar dan tentunya berharap mendapatkan nilai yang seminimal mungkin berada diatas nilai standar minimal kelulusan. Cara tersebut dilakukan dan ternyata berhasil, nilai yang diperoleh pun sesuai harapan dan tidak ada  teguran maupun nasehat dari guru selaku pengajarnya.
Guru sebagai pihak pengajar yang mengemban amanah mengajar dan mendidik disini apakah tidak mengatahui akan hal tersebut, akan semua cara yang digunakan pelajarnya dalam memperoleh nilai. Penulis rasa guru tahu akan hal tersebut karena  saat proses belajar mengajar, saat sebelum ujian dan bahkan saat ujian itupun guru selalu mengingatkan pelajarnya agar jujur dalam mengerjakan, jujur dalam menjawab soal – soal yang diberikan. Selain itu, guru juga sering mengatakan bahwa beliau tahu mana yang mencontek dan mana yang tidak, mana yang mengerjakan dengan jujur dan mana yang berbuat curang. Tetapi tetap saja pada akhirnya ketika nilai diperoleh, mata guru tertuju pada dia yang mendapatkan nilai tertinggi dan terendah, bukan malah pada dia yang jujur atapun yang  curang. Semua kecurangan yang diketahui seperti hilang tanpa jejak, yang terpenting adalah nilai tertinggi dan terendah. Semua usaha dengan kejujuran yang dilakukan pelajarnya seperti terlupakan tertutupi dengan nilainya yang rendah.
Mereka yang memperoleh nilai tinggi dianggap pintar dan begitu juga sebaliknya tanpa memperhatikan metode atau sudut pandang lain terhadap penilaian seorang pelajar termasuk sudut pandang kejujuran dan kecurangan yang dilakukan pelajar dalam memperoleh nilai. Bahkan tidak sedikit guru yang memuji mereka ketika mendapatakan nilai tinggi dengan cara apapun, sedangkan sebaliknya mengumumkan atau memberi tahu didepan pelajar lainnya terhadap mereka yang mendapatkan nilai  rendah tanpa menasehati secara individu terlebih dahulu, terkesan seperti mempermalukan mereka tanpa sekali lagi melihat sudut pandang kejujuran maupun kecurangan yang merekan lakukan, tanpa melihat apakah mereka yang mendapatkan nilai tinggi sudah benar caranya, tanpa melihat apakah mereka yang nilanya rendah tetapi berjalan dengan cara mengerjakan yang jujur.
Itulah salah satu alasan yang tidak seharusnya menjadi alasan mengapa banyak pelajar yang melakukan cara curang dalam mendapatkan sebuah nilai. Karena ketika mereka melakukan cara apaun untuk mendapatkan nilai yang tinggi , itu lebih dihargai oleh guru daripada mereka yang berusaha untuk jujur tetapi mendapatkan nilai yang rendah. Bukannya nasehat, bimbingan tambahan maupun lainnya yang dapat meningkatkan kemampuan mereka melainkan sebuah perlakuan yang terkesan mempermalukan. Pelajar seperti diberikan sebuah pilihan “Jujur tapi nilai jelek dan tidak dihargai, atau nilai tinggi dan dipuji meskipun itu curang” dan guru seperti tidak peduli akan hal tersebut. Bahkan tidak sedikit mereka pelajar yang sebelumnya jujur menjadi berbuat curang karena sadar ia tidak dihargai dengan kejujurannya. 
Apakah disini pelajar yang berbuat curang telah berbuat benar dengan alasan tesebut? Tentu saja tidak. Tidak ada alasan apapun seorang pelajar melakukan kecurangan hanya untuk mendapatkan sebuah nilai.
Apakah disini guru sebagai pengajarlah yang salah? Tentu saja tidak. Guru  berupaya melakukan apapun yang Ia bisa dilakukan untuk kebaikan pelajarnya. Sebelumnya guru sudah memberikan yang terbaik dalam proses belajar mengajar, menyampaikan apa yang seharusnya. Mengingatkan dan menasehati kepada pelajarnya semua yang baik – baik. Bahkan tidak sedikit guru yang menghargai mereka yang telah berbuat jujur dengan cara tidak mempermalukannya, dengan cara memberikan nasehat dan bimbingan tambaha kepada pelajarnya. Mungkin saja pelajarnya yang tidak mampu karena terkena penyakit yang namanya malas sehingga mereka tidak bisa. Tetapi disitulah tugas amanah seorang guru selain mengajar yaitu mendidik, menjadikan pelajarnya sebagai orang yang berpendidikan dan berakhlak dengan cara yang sesuai tentunya.
Lantas bagaimana solusi akan permasalahan tersebut? Tentunya penanaman pemahaman yang mendasar kepada pelajar dan pengajar bahwa nilai bukanlah segalanya, masih ada kejujuran diatasnya.  Selain itu, kegigihan pelajarlah yang perlu ditingkatkan sehingga mampu dengan baik tanpa berbuat curang. Gurupun demikian, cara mengajar dan mendidik yang baik, yang sesuailah yang dibutuhkan oleh seorang pelajar. Mungkin saja tidak hanya mereka yang mendapatkan nilai tinggi diberi sebuah penghargaan, tetapi mereka juga penghargaan terhadapr mereka yang telah berbuat jujur. 
Siapakah yang salah? Tentu saja mereka yang berfikir nilai adalah segalalnya, mereka  yang menganggap tidak ada sudut pandang lain selain nilai. Sehingga yang terjadi adalah melakukan cara apapun demi mendapatkan nilai yang diinginkan meskipun dengan cara – cara yang tidak seharusnya. Tidak ada yang perlu disalahkan, berusahalah  jangan sampai nilai mengalahkan kejujuran.

Dimuat oleh Radar Malang pada Senin 4 Januari 2016 di kolom 'Ruang Guru' halaman 2
Load disqus comments

1 comments :