Ketika Nilai Mengalahkan Kejujuran
![]() |
| Malang Post, Senin 4 Januari 2016 |
Nilai, atau dengan
kata lain adalah skor untuk sebuah mata pelajaran merupakan salah satu hal
mutlak penentu seorang pelajar lulus maupun tidaknya terhadap mata pelajaran
tersebut. Para pelajar dituntut untuk mampu menguasai semua mata pelajaran
sesuai dengan kurikulum yang belaku, sesuai dengan standar minimal kelulusan, sehingga
para pelajar sangat berusaha untuk memenuhi tuntutan tersebut. Tetapi bagaimana
jika cara yang digunakan pelajar adalah cara yang salah, cara yang tidak jujur,
cara yang tidak seharusnya dilakukan oleh seorang pelajar untuk mendapatkan
sebuah nilai mata pelajaran.
Penulis dapat
mengatakan demikian karena baru saja menyelesaikan bagaimana rasanya berkehidupan menjadi seorang pelajar
mulai dari sekolah dasar hingga sekolah menengah atas. Seperti ketika SMA, saat
ujian sebuah mata pelajaran banyak sekali cara – cara yang digunakan adalah
sebuah kecurangan seperti mencontek, bertanya teman, menggunakan handphone dan
lainnya yang digunakan bagaimana agar soal dapat terjawab dengan benar dan tentunya
berharap mendapatkan nilai yang seminimal mungkin berada diatas nilai standar
minimal kelulusan. Cara tersebut dilakukan dan ternyata berhasil, nilai yang
diperoleh pun sesuai harapan dan tidak ada
teguran maupun nasehat dari guru selaku pengajarnya.
Guru sebagai pihak
pengajar yang mengemban amanah mengajar dan mendidik disini apakah tidak
mengatahui akan hal tersebut, akan semua cara yang digunakan pelajarnya dalam
memperoleh nilai. Penulis rasa guru tahu akan hal tersebut karena saat proses belajar mengajar, saat sebelum
ujian dan bahkan saat ujian itupun guru selalu mengingatkan pelajarnya agar
jujur dalam mengerjakan, jujur dalam menjawab soal – soal yang diberikan.
Selain itu, guru juga sering mengatakan bahwa beliau tahu mana yang mencontek
dan mana yang tidak, mana yang mengerjakan dengan jujur dan mana yang berbuat
curang. Tetapi tetap saja pada akhirnya ketika nilai diperoleh, mata guru
tertuju pada dia yang mendapatkan nilai tertinggi dan terendah, bukan malah
pada dia yang jujur atapun yang curang.
Semua kecurangan yang diketahui seperti hilang tanpa jejak, yang terpenting
adalah nilai tertinggi dan terendah. Semua usaha dengan kejujuran yang
dilakukan pelajarnya seperti terlupakan tertutupi dengan nilainya yang rendah.
Mereka yang
memperoleh nilai tinggi dianggap pintar dan begitu juga sebaliknya tanpa
memperhatikan metode atau sudut pandang lain terhadap penilaian seorang pelajar
termasuk sudut pandang kejujuran dan kecurangan yang dilakukan pelajar dalam
memperoleh nilai. Bahkan tidak sedikit guru yang memuji mereka ketika
mendapatakan nilai tinggi dengan cara apapun, sedangkan sebaliknya mengumumkan
atau memberi tahu didepan pelajar lainnya terhadap mereka yang mendapatkan
nilai rendah tanpa menasehati secara
individu terlebih dahulu, terkesan seperti mempermalukan mereka tanpa sekali
lagi melihat sudut pandang kejujuran maupun kecurangan yang merekan lakukan,
tanpa melihat apakah mereka yang mendapatkan nilai tinggi sudah benar caranya,
tanpa melihat apakah mereka yang nilanya rendah tetapi berjalan dengan cara
mengerjakan yang jujur.
Itulah salah satu
alasan yang tidak seharusnya menjadi alasan mengapa banyak pelajar yang
melakukan cara curang dalam mendapatkan sebuah nilai. Karena ketika mereka
melakukan cara apaun untuk mendapatkan nilai yang tinggi , itu lebih dihargai
oleh guru daripada mereka yang berusaha untuk jujur tetapi mendapatkan nilai
yang rendah. Bukannya nasehat, bimbingan tambahan maupun lainnya yang dapat
meningkatkan kemampuan mereka melainkan sebuah perlakuan yang terkesan
mempermalukan. Pelajar seperti diberikan sebuah pilihan “Jujur tapi nilai jelek
dan tidak dihargai, atau nilai tinggi dan dipuji meskipun itu curang” dan guru
seperti tidak peduli akan hal tersebut. Bahkan tidak sedikit mereka pelajar
yang sebelumnya jujur menjadi berbuat curang karena sadar ia tidak dihargai
dengan kejujurannya.
Apakah disini
pelajar yang berbuat curang telah berbuat benar dengan alasan tesebut? Tentu
saja tidak. Tidak ada alasan apapun seorang pelajar melakukan kecurangan hanya
untuk mendapatkan sebuah nilai.
Apakah disini guru
sebagai pengajarlah yang salah? Tentu saja tidak. Guru berupaya melakukan apapun yang Ia bisa
dilakukan untuk kebaikan pelajarnya. Sebelumnya guru sudah memberikan yang
terbaik dalam proses belajar mengajar, menyampaikan apa yang seharusnya.
Mengingatkan dan menasehati kepada pelajarnya semua yang baik – baik. Bahkan
tidak sedikit guru yang menghargai mereka yang telah berbuat jujur dengan cara
tidak mempermalukannya, dengan cara memberikan nasehat dan bimbingan tambaha
kepada pelajarnya. Mungkin saja pelajarnya yang tidak mampu karena terkena
penyakit yang namanya malas sehingga mereka tidak bisa. Tetapi disitulah tugas
amanah seorang guru selain mengajar yaitu mendidik, menjadikan pelajarnya
sebagai orang yang berpendidikan dan berakhlak dengan cara yang sesuai
tentunya.
Lantas bagaimana
solusi akan permasalahan tersebut? Tentunya penanaman pemahaman yang mendasar
kepada pelajar dan pengajar bahwa nilai bukanlah segalanya, masih ada kejujuran
diatasnya. Selain itu, kegigihan
pelajarlah yang perlu ditingkatkan sehingga mampu dengan baik tanpa berbuat
curang. Gurupun demikian, cara mengajar dan mendidik yang baik, yang sesuailah
yang dibutuhkan oleh seorang pelajar. Mungkin saja tidak hanya mereka yang
mendapatkan nilai tinggi diberi sebuah penghargaan, tetapi mereka juga
penghargaan terhadapr mereka yang telah berbuat jujur.
Siapakah yang
salah? Tentu saja mereka yang berfikir nilai adalah segalalnya, mereka yang menganggap tidak ada sudut pandang lain
selain nilai. Sehingga yang terjadi adalah melakukan cara apapun demi
mendapatkan nilai yang diinginkan meskipun dengan cara – cara yang tidak
seharusnya. Tidak ada yang perlu disalahkan, berusahalah jangan sampai nilai mengalahkan kejujuran.
Dimuat oleh Radar Malang pada Senin 4 Januari 2016 di kolom 'Ruang Guru' halaman 2

1 comments :