Review Film
Headshot – Iko Uwais dan Chelsea Islan. Kamis, 8 November 2016 kemarin merupakan
penayangan perdana film “Headshot” yang dibintangi oleh aktor laga Iko Uwais,
dan dilengkapi pula oleh aktris muda berbakat Chelsea Islan. Penulis
berkesempatan menonton langsung ke
bioskop dengan rasa penasaran ingin
menikmati film asli Indonesia yang sangat dinanti – nanti akhir tahun 2016 ini.
Berikut adalah ulasan review film “Headshot” setelah menonton secara langsung.
- Gender Film
Sama
halnya dengan film - film action yang dibintangi oleh Iko Uwais sebelumnya,
film “Headshot” juga sarat akan adegan saling tembak – tembakan serta aksi
perkelahian secara langsung menggunakan tangan kosong. Bedanya, film “Headshot”
tidak hanya ber-gendre full action fight saja, namun juga gendre drama
romantis. Hal ini dibuktikan pula dengan tampilnya aktris cantik Chelsea Islan
sebagai lawan pendamping Iko Uwais dalam beradegan romantis. Namun, adegan
drama romantis yang disajikan masih terkesan terpisah atau kurang sesuai jika
dipadukan dengan gendre asli film tersebut yakni full action fight. Adegan
drama romantis yang ada, sangat terkesan seperti film full drama romantis yang
sebenarnya sehingga terasa kaku, berlebihan, tidak alami, dan kurang menyentuh
hati para penontonya. Apalagi peralihan antara scene romantis dengan scene
fight, terlihat kurang menyambung bahkan terputus karena terjadi kekakuan saat
scene romantis lalu perlahan muncul scene fight.
Kalaupun
ingin ditambahkan adegan drama romantis,
seharusnya tidak perlu berlebihan sehingga tidak terlihat kaku, cukup dengan
beberapa adegan romantis yang sederhana seperti melalui kalimat ataupun
tindakan – tindakan ringan akan tetapi dapat berkesan dan menyentuh langsung hati
para penonton ditengah – tengah tayangnya film perkelahian yang sangat mendebarkan.
- - Alur Cerita
Secara
umum, film “Headshot” memiliki alur cerita yang cukup seru dan membuat
penasaran saat menontonya. Film ini mengisahkan pemberontakan / pembelotan seorang
anak hasil didikan dengan cara yang
tidak manusiawi bersama anak – anak lainya untuk dijadikan seorang pembunuh
yang buas. Iko Uwasi sebagai salah satu dari anak tersebut membelot karena
sadar akan kekeliruan didikan dan semua
tindakan yang pernah dilakukan.
Alur cerita yang ada dapat
dinikmati dengan jelas dan tidak membingunkan, baik itu alur berjalan maju,
maupun alur yang menceritakan kejadian yang telah terjadi.
- - Kalimat, Pengucapan, dan Penjiwaan
Semua
kalimat adegan yang ada diucapkan secara jelas oleh masing – masing aktor,
mesipun sekali lagi pada adegan drama romantis, kalimat yang ada membuat adegan
semakin terasa kaku.
Secara
umum, penjiwaan karakter telah melekat pada masing – masing aktor, kecuali saat
drama romantis. Khusus untuk antagonis utama, penjiwaan karakter yang dibawakan
perlu diapresiasi karena dinilai sempurna dalam setiap adegannya sehingga
membuat penonton merinding.
- - Aktor yang Terlibat
Banyak
sekali aktor – aktor fight yang beradegan langsung dengan Iko Uwais pada film
ini, menjadikan banyaknya scene fight yang ada sehingga penoton dapat menikmati
berbagai adegan perkelahian dengan lawan yang berbeda namun sangat alot dan
berdurasi cukup panjang.
Selain
aktor fight, aktris drama Chelsea Islan menjadikan film ini memiliki beberapa
macam rasa. Chelsea Islan pun tidak hanya beradegan drama romantis, tetapi juga
beradegan perkelahian yang dirasa cukup sempurna dan tidak terkesan kaku.
-
- Efek Adegan
Efek
berdarah – darah saat adegan tembak – tembakan maupun perkelahian membuat film
ini terlihat nyata. Namun, beberapa adegan yang dirasa kurang relevan seperti
adegan tembak – tembakan yang beruntun tetapi yang tertembak masih dapat
menembak beruntun pula, meskipun pada akhirnya semuanya mati. Selain
itu, adegan Iko Uwais yang terlalu banyak “keberuntungan” untuk tidak tertembak
padahal dengan jarak dan penembak yang baik seharusnya dapat dikurangi sehingga
tidak terlihat seperti dibuat – buat.
Efek
slowmotion beberapa kali hadir pada film “Headshot” untuk memperjelas adegan
tertentu sehingga penonton dapat lebih menikmati adegan dengan jelas. Tetapi
beberapa efek slowmotion yang berlebihan dan tidak perlu membuat adegan tidak
nyata dan seperti dibuat – buat.
- - Lawan Utama
Tokoh
antagonis utama adalah sang pendidik Iko Uwais itu sendiri, tetapi adegan
perkelahian yang disajikan melawan antagonis utama dirasa kurang memuaskan
karena durasi adegan yang kurang runtun, serta terlalu banyaknya jeda yang
tidak perlu saat adegan perkelahian.
- - Aliran
Bela Diri
Pada
film – film yang lalu, sangatlah jelas aliran bela diri yang digunakan Iko
Uwais maupun lawan - lawannya saat
adegan perkelahian. Namun, pada film “Headshot” sangat terkesan seperti
berkelahi tanda ilmu bela diri, semrawut, dan tidak terlihat keindahan seni
bela diri, padahal salah satu yang ditonjolkan oleh film – film sebelumnya
adalah keindahan ilmu bela diri tersebut.
Meskipun
saat melawan antagonis utama terdapat sedikit keindahan ilmu bela diri, serta memperjelas aliran bela diri, namun tidak
dapat dinikmati secara penuh oleh penonton.
Jika diperhatikan terdapat salah satu koreografi yang sama dengan film
The Raid 2, tetapi pada film ini tidak semenarik seperti film sebelumnya sehingga tidak menyebabkan rasa kagum
penonton dengan bertepuk tangan puas.
- Judul Kurang Jelas
Seperti film Merantau dan The Raid, judul film mencerminkan cerita yang ada pada filmnya, tetapi judul pada film "Headshot" terkesan tidak sama sekali mencerminkan isi maupun alur cerita film, padahal yang diharapakan tentunya adalah arti dari kata 'headshot' itu sendiri.
- - Adegan / Scene Lucu
Adegan
drama romantis seharusnya dapat meniru konsep dari adegan / scene lucu yang
ada. Adegan lucu berjalan dengan sederhana, unik, alami dan tidak berlebihan
namun dapat dinikmati langsung oleh penonton dan dibuktikan dengan respon
penonton yang tertawa lepas ditengah – tengah film. Porsinya pun tidak
berlebihan, tidak menutup gendre utama, dan tidak menimbulkan gendre komedi.
- - Karakter Potensial
Karakter
yang dimainkan oleh Bimo seharusnya dapat berlanjut cukup panjang karena
karakter yang dibawakan dapat dirasakan oleh penonton secara langsung, baik itu
karakter dengan adegan lucu, bahkan adegan kasar / sadis. Jika karakternya dikembangkan
mungkin saja penonton akan lebih tertarik.
- - Kesalahan Adegan / Scene
Sampai
pada artikel ini ditulis, kesalahan scene yang cukup terlihat ada pada awal –
awal mulai jalannya cerita menuju adegan perkelahian, yakni saat Iko Uwais
menyusul Bus yang tumpangi Chelsea Islan.
Itulah beberapa ulasan review
dari film “Headshot”. Beberapa detail tidak dapat dijelaskan secara rinci demi
menjaga karya film “Headshot” itu sendiri, dan dapat lebih jelas ketika
menonton secara langsung dan legal tentunya .
Artikel ini tidak sedikitpun
bermaksud untuk menjelek – jelekkan film “Headshot” melainkan hanya berupa
ulasan pendapat subjektif dari penulis yang tidak bisa dibenarkan maupun disalahkan sepenuhnya namun tetap dapat dipertanggungjawabkan oleh penulis.
Penulis sangat mengapresiasi film “Headshot” dengan cara menonton secara
langsung dan memulis review ulasan pada arikel ini. Semoga perfilman Indonesia semakin lebih baik.
Penulis & Editor : Mahrus Khomaini























